Ketika Tepat Takaran Timbangan Tidak Lagi Jadi Pertimbangan

0
179


Kalau ada tayangan investigasi tentang kecurangan timbangan di televisi, kira-kira bagaimana perasaan Anda? Apakah kaget, terkejut, tidak menyangka, marah, jengkel, sebal atau prihatin? Entah yang mana perasaan negatif Anda, tetapi fenomena tersebut sudah marak saat ini.

Itu mungkin masih dirasa tidak langsung menohok kesehatan kita. Lalu bagaimana dengan penjual yang menggunakan bahan-bahan berbahaya untuk makanan? Misalnya menggunakan boraks atau pengawet mayat pada bakso. Atau memakai daging tikus untuk mie ayam. Cabe busuk untuk sambal murahan. Mungkin kita akan merasa geram dan benci sekali. Jangan-jangan kita pernah memakannya? Jangan-jangan kita malah sering mengonsumsinya?

Kecurangan dalam perdagangan atau perniagaan, menyangkut takaran timbangan yang kurang, tidak cuma terjadi sekarang ini. Bahkan, jauh lampau sebelumnya, jauh sebelum Anda dan nenek moyang Anda lahir, hal itu sudah disebutkan dalam Al-Qur’an. Tepatnya di Surah Al-Muthaffifin, surah ke-83, 36 ayat. Dalam tulisan ini, Insya Allah akan disebutkan sekelumit tentang tafsirnya. Diambil dari kitab Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan dan lebih dikenal sebagai Tafsir As-Sa’di.

Dibuka dengan Ancaman Celaka!

Dalam Al-Qur’an, surah yang dimulai dengan ancaman celaka adalah Surah Al-Muthaffifin dan Surah Al-Humazah. Mengapa dimulai dengan peringatan celaka? Karena memang isinya menyangkut dengan hak kepada sesama manusia. Lalu, bagaimana dengan statusnya, apakah Surah Al-Muthaffifin tersebut merupakan Surah Makkiyah atau Madaniyah? Ada perbedaan pendapat dalam perkara ini.

Sebagian ulama mengatakan bahwa surah ini termasuk Makkiyah karena didapati konteks pembicaraannya adalah untuk orang-orang kafir Makkah yang mengingkari hari kebangkitan. Disebutkan dalam surah ini, ayat:

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Artinya: “Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata ‘itu adalah dongeng orang-orang dahulu.'”


Ungkapan seperti itu adalah contoh kalimat yang sering dikeluarkan oleh orang-orang Quraisy Makkah. Sebaliknya, bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa surah ini Madaniyah? Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan bahwa asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini adalah ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam berhijrah dari kota Mekah ke Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah sangat buruk dalam menakar dan menimbang.

Praktek semacam ini sering dilakukan mereka sebelum Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam datang ke kota Madinah. Sehingga turunlah Surah Al-Muthaffifin sebagai teguran bagi mereka. Ini adalah pendapat sebagian ulama tentang alasan surah Al-Muthaffifin disebut sebagai Surat Madaniyyah.

Mau Enaknya Saja!

Mari kita lihat ayat-ayat awal di Surah Al-Muthaffifin:

Ayat pertama:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Artinya: “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

Pada ayat kedua:

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan.”

Ayat ketiga:

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

Artinya: “Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.”

Ayat keempat:

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

Artinya: “Tidakkah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan?”


Pada awal surah ini, disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang orang-orang yang ketika membeli dari orang lain, minta dicukupkan takarannya. Namun, apabila menjual kepada orang lain, mereka malah mengurangi. Perkara ini dianggap sepele bagi orang-orang yang melakukannya. Padahal sebenarnya mengurangi takaran tersebut termasuk perkara yang sangat berat di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Mengurangi takaran memang dilakukan dalam jumlah yang sedikit. Jika jumlahnya banyak, maka akan ketahuan. Akan tetapi, dari yang sedikit bagi satu orang, bagaimana jika yang menjadi korbannya adalah beberapa sampai banyak orang? Tentunya bukan lagi sedikit. Tapi, sudah buaanyyakkk sekali! Dan, termasuk perkara yang besar karena menyangkut hak orang lain, terutama harta orang lain yang diambil secara dzolim.

Kita bisa melihat contoh: Ada yang memasang lempengan besi di bawah tempat menaruh barang yang akan ditimbang. Tujuannya, sejak awal piringan itu akan berat. Atau yang menggunakan jarum, semula memang tidak pas menunjukkan angka nol. Tidak seperti ketika kita membeli bensin di pom milik pemerintah yang sering dikatakan “dimulai dari angka nol ya!”

Itu dari segi alatnya. Dari segi perilaku penjualnya juga bisa. Contohnya adalah barang yang ditimbang dalam keadaan yang goncang. Ini mirip dengan perasaan orang yang belum menikah. Akan tetapi, tidak akan dibahas di sini tentang hal tersebut. Intinya, angka atau alat ukur pada timbangan belum menunjukkan hasil yang stabil, tetapi sudah diangkat. Sudah dibungkus. Sudah diserahkan kepada pembeli. 

Lain lagi jika kita membeli buah yang dimasukkan ke dalam plastik. Bisa jadi, tangan si penjual masih sambil memegang pegangan plastik tersebut. Akibatnya, timbangan jadi tidak murni karena terdistorsi dengan tangan penjual yang kekar. Hasilnya, timbangan jadi tidak akurat. Ketika barang dibawa di rumah, beli satu kilogram, kok terasa kurang ya? Pernah merasa begitu? 

Tempat yang Dilaknat Allah

Ada tempat yang dilaknat atau dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tempat tersebut adalah pasar. Hal ini berdasarkan hadist dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا ، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
Artinya: “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.” (Hadist Riwayat Muslim Nomor 671).


Kok Allah paling benci dengan pasar? Ini ada alasannya. Menurut Imam Nawawi rahimahullahKarena pasar, umumnya adalah tempat orang untuk curang, menipu, transaksi riba, sumpah palsu, menyalahi janji, tidak ingat Allah, dan aktivitas lainnya yang semakna. Masjid adalah tempat turunnya rahmat. Sementara pasar kebalikannya. (Syarh Shahih Muslim, 5/171).

Dalam konteks jaman now, pasar memang makin menampakkan keindahannya. Dihiasi dengan promosi di sana-sini, para pelayan yang membuat dosa pada pandangan kita, penataan atau display yang sangat menarik, full AC, sampai dengan full musik. Hal tersebut paling nyata di mall yang menjadi ikon atau simbol dari kota, meskipun sebenarnya kota kecil juga. 

Aneka jenis orang campur baur di situ. Laki-laki, perempuan, bahkan yang bencong maupun waria juga ikut larut dalam kerumunan di mall atau pasar modern tersebut. Ditambah dengan acara yang dibuat meriah, mendatangkan artis ibukota misalnya, maka orang-orang makin betah berada di sana, lupa pulang, padahal sedang menabung dosa makin banyak. Naudzubillah min dzalik.

Selain itu, di mall juga membuat lalai. Ini jelas erat kaitannya dengan aneka permainan, terutama bagi anak-anak. Waktu sholat sudah berkumandang, tetapi mereka masih asyik sekali bermain. Makanya, ada sebuah gambar anekdot, bahwa uang seratus ribu ketika dibawa ke masjid terasa sangat besar, tetapi ketika dibawa ke mall sangatlah sedikit. Padahal, kembali kepada hadist tersebut di atas, untuk tempat yang dicintai Allah, kurang mau berkorban, sementara untuk tempat yang buruk, malah banyak yang ke luar.

Lalu, apakah semua orang yang berada di dalam pasar tersebut jelek semua? Oh, ini jelas tidak benar! Masih banyak kok kita temukan mereka yang mencari nafkah untuk keluarga tercintanya dari pasar. Menjual produk-produk yang halal, bersih, bermanfaat, tidak melakukan penipuan, sumpah palsu, sambil menunggu pembeli dengan dzikir atau membaca Al-Qur’an dan hal positif lainnya.

Pedagang yang jujur dan amanah mendapatkan keistimewaan tersendiri. Hal ini sesuai dengan hadist dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti).” (HR Ibnu Majah nomor 2139, al-Hakim nomor 2142 dan ad-Daraquthni nomor 17, dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi ada hadits lain yang menguatkannya. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, HR at-Tirmidzi nomor 1209 dan lain-lain. Oleh karena itu, hadits dinyatakan baik sanadnya oleh Imam adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani, lihat “ash-Shahiihah” nomor 3453).

Melihat perbandingan antara pedagang yang curang dalam takaran dengan pedagang yang jujur, maka bagaimana balasan untuk golongan pertama tersebut? Disebutkan dalam ayat ketujuh, bahwa bagi orang-orang yang durhaka, maka akan diberikan Kitab As-Sijjin, yaitu: kitab pelaku dosa. Dalam tafsir lain, disebutkan bahwa Sijjin adalah tempatnya di kerak bumi paling bawah. Sekali lagi, termasuk dalam hal ini adalah bagi orang-orang yang menimbang atau menakar curang tersebut.

Ternyata Tidak Hanya Untuk Pedagang, Lho!

Wah, mungkin ketika kita membaca surah ini, bercerita tentang pedagang-pedagang yang curang, makanya hasilnya jadi kurang, jangan sampai kita jadi merasa aman! Ah, surah ini ‘kan untuk mereka ji… Itu sudah ngeles namanya. Apalagi jika profesi kita bukanlah pedagang yang mengurangi takaran dalam surah tersebut.

Akan tetapi, rupanya kita tetap perlu hati-hati. Sifat yang disebutkan dalam Surah Al-Muthaffifin adalah orang yang menuntut hak secara penuh dari orang lain, tetapi tidak mau memberikan hak yang penuh pula kepada orang lain. Inilah yang bisa jadi terjadi dalam kehidupan kita.

Sebagai contohnya dalam kehidupan keluarga. Ada suami yang menuntut istri untuk melayaninya dengan sangat baik. Istri harus tampil cantik, menarik, pokoknya full service kepada suaminya. Padahal, si suami ketika di rumah maunya santai-santai terus.

Main HP tanpa henti, bahkan main game online. Bermain game perang-perangan mirip anak kecil. Ditambah dengan merokok. Wah, tepuk jidat kalau begini! Suami tersebut tidak mau membantu istrinya dalam pekerjaan rumah tangga. Mencuci baju, menjemur, membersihkan kompor, mengepel lantai, menyapu dan lain sebagainya.

Itu ‘kan perbuatan yang tidak adil. Atau ketika ingin istri tampil cantik terus, sementara untuk perawatan kecantikan sangatlah kurang, jika tidak mau dikatakan tidak ada. Hal tersebut banyak terjadi. Bukankah kehidupan rumah tangga itu adalah saling mengisi di antara suami dan istri?

Bisa juga terjadi antara orang tua dengan anak. Ayah dan ibunya ingin anak itu bisa pintar, rangking satu di kelas, masuk lima besar terus. Akan tetapi, ketika jam belajar, orang tuanya malah menonton televisi. Bagaimana anak mau konsentrasi belajar kalau suara TV terdengar dengan jelas? Bukankah bisa pula dilakukan belajar bersama? Anak belajar materi di sekolahnya, orang tua belajar materi tarbiyah besok. Boleh juga ‘kan?

Atau dalam kenyataan lain, kita ingin anak-anak berperilaku baik, sopan, lemah lembut, tetapi kita sebagai orang tua menampilkan perilaku yang kasar, suka marah-marah, langsung menyalahkan anak tanpa melihat kejadian awalnya dan lain sebagainya. Marahnya kita bisa berujung kepada tindak kekerasan. Ya, memukul, ya, menendang. Menyakitilah, pokoknya. Bagaimana bisa anak tersebut baik kalau orang tuanya malah keras dan mengerikan?

Hindari Meremehkan yang Sedikit

Ketika berbicara tentang mengurangi hak orang lain dari hartanya meskipun cuma sedikit, lalu bagaimana dengan orang yang mengambil dalam jumlah yang banyak? Contohnya perilaku seorang koruptor. Betapa banyak orang yang menjadi korban karena hartanya diambil secara haram tersebut.

Pada hari kiamat, rakyat yang dikorupsi hartanya tersebut akan menuntut kepada si koruptor. Ini ‘kan jelas-jelas sangat mengerikan! Si koruptor belum tentu memiliki amal sholeh banyak, sudah dituntut berjuta-juta orang.

Mungkin di antara kita ada yang disinggung dalam surah yang mulia ini. Namun, selama masih ada kesempatan, marilah kita berusaha untuk memperbaiki diri. Perkara hari kiamat adalah sangat berat. Kita akan berhadapan dengan Allah dan sesama manusia. Saya tutup dengan perkataan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh yang pernah berkata:

إِنْ لَقِيتَ اللَّهَ تَعَالَى بِسَبْعِينَ ذَنْبًا فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى أَهْوَنُ عَلَيْكَ مِنْ أَنْ تَلْقَاهُ بِذَنْبٍ وَاحِدٍ فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِبَادِ

“Jika engkau bertemu Allah (meninggal dunia) dengan membawa 72 dosa antara engkau dan Allah masih lebih ringan bagimu, daripada engkau bertemu Allah dengan membawa satu dosa antara engkau dengan hamba-Nya.” (Tanbiihul Goofiliin bi Ahaadiit Sayyidil Anbiyaa’ wal Mursaliin, As-Samarqondi hal 380).

Wa’allahu alam bisshawab

Ditulis Oleh:
Rizky Kurnia Rahman
(Anggota Departemen Infokom DPD Wahdah Islamiyah Bombana)

Sumber:
1. Ta’lim rutin “Tafsir Juz 30” pada tanggal 16 Februari 2020 di Masjid Al-Muhajirin (kompleks pasar sentral Bombana) oleh Ustadz Aidil Mudzakar, SH (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Wahdah Bombana).

2. Website pribadi Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin: https://firanda.com/3411-tafsir-surat-al-muthaffifin-tafsir-juz-amma.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here