Hijrah: Antara yang Dihapus dan Jangan Terputus Dalam Keadaan Khusus!

0
185

Pada jaman now, kita bisa menyaksikan fenomena-fenomena yang seperti makin rusak saja. Anda bisa melihat dalam berita-berita yang ada, baik itu di TV hitam putih (masih ada yang punya ini?), TV berwarna, bentuk tabung maupun layar datar dan tentu saja, tidak bisa kita lupakan, yaitu: internet!

Apa saja sih yang termasuk berita-berita itu? Contoh yang termasuk dosa besar, seperti: pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seksual, narkoba, bunuh diri dan lain sebagainya. Wah, rasa-rasanya memang semakin parah! Ketika ada orang menonton atau mengonsumsi berita-berita semacam itu, maka bisa saja dia akan terdorong untuk melakukan yang serupa. Getok tular.

Baca Juga: Tahu Hukumnya, Tahu Aturan Mainnya

Namun, Alhamdulillah, pada sisi sebaliknya, kita bisa melihat cukup banyak kecenderungan orang untuk berhijrah. Misalnya, dari perempuan yang tidak berjilbab, menjadi berjilbab. Semakin besar saja jilbabnya dan jelas bisa menutupi aurat dengan sempurna. Ditambah lagi dengan cadar yang juga sekarang tidak dianggap asing lagi. Asal yang mengenakannya tetaplah perempuan lho!

Begitu pula dengan di pihak laki-laki. Mulai cukup banyak yang berpenampilan sunnah. Berjenggot dan bercelana tidak isbal alias berada di atas mata kaki. Hal tersebut diinspirasi pula dari para artis yang telah mengganti penampilannya, bahkan gaya hidupnya. Meskipun mereka berpenampilan sunnah, tetapi tetap keren juga. Yah, namanya memang sudah dari sononya.

Untuk kalangan di sini, tempat saya tinggal, juga ada Kopiah Bombana atau berasal dari Komunitas Pemuda Hijrah. Alhamdulillah, isinya adalah anak-anak muda yang punya niat dan usaha untuk menjadi semakin baik. Dari yang mulanya hijrah, mereka mengharapkan dapat melangsungkan walimah, mendapatkan jodoh perempuan sholihah, selanjutnya diberikan anak-anak sebagai amal jariyah, tujuan akhirnya jannah. Lengkap sudah!

Kalau membahas hijrah itu sekarang cukup erat kaitannya dengan penampilan, tetapi dalam sejarah Islam, hijrah adalah sebuah peristiwa yang dialami oleh para sahabat ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup. Pertama ke negeri Habasyah, kedua ke Madinah. Mari kita simak hadits yang mulia, hadits ketiga dari kitab terkenal yang ditulis oleh Imam Nawawi Rahimahullah, Riyadhus Shalihin.


Hijrah yang Sudah Terhenti

Hadits yang ketiga dalam kitab ini:
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak ada hijrah setelah terbukanya kota Mekah. Akan tetapi (yang ada) adalah jihad dan niat. Dan jika kamu diminta berangkat jihad, maka berangkatlah.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam hadits tersebut, disebutkan tentang tidak adanya hijrah setelah Fathul Makkah atau terbukanya kota Makkah. Lalu, apa alasannya tidak ada hijrah lagi? Sebab Makkah sudah menjadi Darul Islam atau negeri Islam. Sampai sekarang, bahkan sampai hari kiamat nanti. Kata Imam Nawawi Rahimahullah, kalau sudah ada atau terbentuk negeri Islam, maka tidak usah dicari negeri atau daerah lain.

Ada Hijrah yang Terus Berjalan

Namun, hijrah dipandang juga oleh para ulama, akan terus dilakukan sampai hari kiamat. Apa contohnya? Misalnya begini, hijrahnya seorang muslim dari daerah yang sering ada maksiat menuju daerah yang lebih terjaga dari maksiat tersebut. Dalam ungkapan lain, lebih terjaga agama dan imannya. 

Baca Juga: Ketika Tidak Mau Berhukum dengan Hukum Allah, Apakah Kafir?


Hijrah memang mendatangkan keutamaan dan nilai yang sangat besar. Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berani meninggalkan harta benda dan perniagaan yang besar demi berhijrah ke negeri yang lebih aman. Pertama ke Habasyah. Meskipun ini negeri kafir, tetapi di sana, agama Islam dilindungi. Kedua, ke Madinah, sebuah kota yang berhasil berubah setelah dakwah Mus’ab bin Umair Radhiyallahu Anhu.

Bagi orang yang sudah mendapatkan daerah aman dan nyaman, maka selanjutnya adalah berjihad dan selalu mendatangkan niat-niat baik. Jihad ketika diperintahkan oleh pemimpin kaum muslimin, sedangkan niat baik dilakukan sebelum kita berbuat.

Dari pengertian hijrah menuju tempat yang lebih baik ini, maka tinggal di negeri kafir itu sebenarnya sangatlah berbahaya. Jangan mengira bahwa tinggal di luar negeri itu keren! Malah berbangga-bangga bisa tinggal di luar Indonesia. Padahal, ketika di sana, mungkin saja Islam dihalangi. Banyak larangan segala macam untuk orang Islam, maka tetap diperlukan yang namanya hijrah. 

Jadi, boleh apa tidak tinggal di negeri-negeri kafir tersebut? Menurut Syekh Utsaimin Rahimahullah, boleh-boleh saja tinggal di sana. Namun, dengan dua syarat! Pertama adalah terjaga agamanya, berupa ilmu dan imannya. Kedua, mampu menampakkan syiar-syiar agama Islam. Kalau dua hal tersebut tidak bisa dilakukan, maka carilah tempat yang lebih baik. Insya Allah di Indonesia masih sangat bagus dan kondusif untuk ditinggali demi menjaga agama dan syiar Islam.

Turunnya Hujan

Musim penghujan masih terus berlangsung. Bagaimana dengan di tempat Anda sendiri? Pada tulisan ini, tidak akan dibahas tentang hujan air tersebut. Meskipun banyak orang Indonesia yang sebenarnya sadar bahwa musim di negeri ini cuma dua, yaitu: kemarau dan penghujan. Namun, masih banyak pula yang tidak memiliki mantel hujan. Akhirnya, ketika naik sepeda motor dan hujan, memilih untuk berteduh. Padahal, itu cukup membuang waktu. Benar ‘kan?

Jika kaitannya dengan hujan, ada sebuah peribahasa yang cocok. Hujan batu di negeri sendiri masih lebih baik daripada hujan emas di negeri orang. Begitulah kira-kira. Hujan batu itu memang menyakitkan jika terkena. Akan tetapi, hal itu masih lebih baik daripada mendapatkan kenikmatan-kenikmatan yang mungkin saja terasa semu dan ujungnya bikin pilu.

Banyak contoh misalnya, ketika tinggal di luar negeri, suara adzan tidak seramai di tanah air. Masjid pun jarang dan bentuknya tidak mirip dengan masjid kita. Saat lebaran, tidak bisa merasakan suasana indah seperti waktu di kampung halaman. Atau mau mudik, mahalnya luar biasa. Ditambah dengan kerepotan-kerepotan lainnya. 

Bagaimana pula dengan penduduknya di sana? Nah, ini dia yang cukup rumit. Sebagian besar pakaian, pergaulan, pola hidup dan cara beribadah mereka jelas banyak yang berbeda dengan Islam. Namanya saja negeri kafir. Sungguh berat dan sulit bagi seorang muslim dengan iman yang lemah menghadapi banyak godaan seperti itu. Cukup mengerikan jika dia tidak bisa mewarnai, malah diwarnai.

Maka, bersyukurlah kita tinggal di Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia. Walaupun negara kita memang masih kekurangan di sana-sini, tetapi di sinilah kita lahir, tumbuh dan berkembang sampai sekarang. Bahkan, mencari jodoh pun di sini. Ini bagi yang sudah punya lho! Bagi yang belum menikah dan mendapatkan yang sholeh, mungkin masalahnya adalah belum berhijrah juga. Perbaiki diri sendiri dulu agar menjadi sholeh, maka Insya Allah jodoh yang sholeh pun akan didapatkan. Asal jangan sampai memberatkan prosesnya ya!

Baca Juga: Bersama Teman Sampai ke Ujung, Apakah Beruntung?

Wa’allahu alam bisshawab

Sumber:
1. Ta’lim rutin Subuh, hari Selasa, tanggal 3 Februari 2020, di Musholla DPRD Kabupaten Bombana, oleh Ustadz Musmuliadi, S.H, dengan tema: “Pembahasan Kitab Riyadhus Shalihin”.
2. Situs internet: https://muslimah.or.id/2914-hadits-jihad-dan-niat.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here