Cadar dan Keinginan Untuk Istiqomah Secara Sadar (2)

0
334

Bismillah. Melanjutkan tulisan yang kemarin, masih ada sedikit kaitannya dengan muslimah yang mengikuti perlombaan MTQ ke-37 di Sumatra Utara.

Happy ending. Akhir yang bahagia. Akhwat bercadar peserta tersebut mendapatkan sesuatu yang mungkin tidak dia duga-duga sebelumnya. Lebih mendahulukan Allah daripada perintah dewan juri. Pada akhirnya, banyak yang bersimpati kepadanya.

Bantuan Warganet

Sebenarnya, kejadian tersebut tidak lepas dari peranan netizen yang dalam bahasa Indonesianya adalah warganet. Jempol-jempol merekalah yang menjadikan peristiwa itu viral. Apalagi jika sudah menyangkut perasaan, kesedihan dan tentu saja kaitannya dengan agama Islam, pasti efeknya cepat.

Namun, di tengah kepedulian saudara muslim terhadap muslimah tersebut, ternyata kok ya masih ada yang nyinyir? Dalam sebuah postingan di Facebook, yang nyinyir tersebut mengatakan bahwa muslimah tersebut ahlul bid’ah. Bukan pengikut ahlussunnah.

Memang, yang menulis sudah ditutupi. Namun, ada pula yang menampilkan nama si pembuat nyinyiran tersebut. Subhanallah, ternyata seorang perempuan juga!

Media sosial memainkan peranannya seperti ajang balas-membalas. Warganet lain yang mengomentari status tersebut ada yang menuliskan bahwa si pembuat status kurang ngopi. Ditambah ngopi pahit lagi. Atau karena dia tidak ikut dapat 100 juta rupiah, donasi dari kaum muslimin terhadap muslimah bercadar tersebut. Aneka komentar bermunculan.

Baca Juga: Bersama Teman Sampai ke Ujung, Apakah Beruntung?

Hal yang sangat disayangkan memang terlalu berani dan cepat memvonis seseorang sebagai ahlul bid’ah. Hanya karena tampil di depan umum, memperdengarkan suaranya di tengah orang yang bercampur laki-laki dan perempuan, langsung dicap sebagai ahlul bid’ah.

Padahal, semestinya, misalkan ada orang yang ikut perayaan bid’ah saja, jangan langsung dicap sebagai ahlul bid’ah. Siapa tahu, dia hanya ikut-ikutan? Siapa tahu, dia memang tidak tahu hukumnya? Ya ‘kan? Berprasangka baik itu lebih utama daripada buruk.

Bagi yang terlanjur nyinyir, bacaan Al-Qur’annya bagaimana? Mungkin saja yang mencela tersebut bacaan Al-Qur’annya tidak lebih bagus daripada yang dicela. Makanya, mereka tidak berani ikut perlombaan karena bisa jadi modal bacaannya masih sangat kurang.

Ada pula yang mengomentari bahwa akhwat peserta MTQ seharusnya tidak tampil di depan seperti itu, dengan alasan suaranya. Janganlah suaranya didengarkan oleh orang lain yang bukan mahrom. Kira-kira seperti itu. Mungkin saja, yang komentar demikian punya pandangan bahwa suara perempuan adalah aurat. Hem, betulkah begitu?

Aurat Atau Tidak?

Bagian tubuh yang terbuka bagi seorang muslimah memang aurat, kecuali muka dan telapak tangan. Ini sudah jadi kesepakatan kita sebagai kaum muslimin. Mau muka ditambah dengan cadar, dipersilakan ke person masing-masing.

Tentang suara, ketika saya menanyakan ke guru saya, bahwa memang suara perempuan itu bukanlah aurat. Jika suara perempuan dianggap aurat, maka bagaimana para sahabat mendengarkan hadits dari Ummul Mukminin?

Pertanyaan selanjutnya, suara dikatakan aurat itu yang bagaimana? Ternyata, jawabannya ketika suara itu meninggi, mendayu-dayu, lemah gemulai, ada desahan dan nada-nada lain yang bisa memancing hasrat laki-laki asing, maka itulah yang bisa dikatakan sebagai aurat.

Sebaliknya, jika suaranya biasa, normal dan memang ada maslahat di situ, maka bukan aurat. Contoh: dalam sebuah ta’lim online di sebuah televisi atau saluran dakwah. Cukup banyak kok perempuan yang bertanya kepada ustaz pemateri. Melalui telepon maupun secara langsung lewat mikropon.

Jika dianggap aurat, maka sang ustaz pasti akan menyuruh si penanya untuk diam. “Maaf, Bu, jangan bicara di sini karena suara Ibu adalah aurat bagi kami!”

Dengan penanya yang bersuara, maka ustaz pemateri bisa bertanya balik bila ada yang masih kurang jelas. Atau memperdalam dari sesuatu yang ditanyakan tersebut. Sedangkan bila melalui kertas, ya, kalau tulisannya bagus. Kalau jelek dan cuma si penulis sendiri satu-satunya orang di dunia yang bisa baca tulisan tersebut, bagaimana? Jelas ini akan sangat merepotkan.

Kenyataan yang ada, belum pernah saya menemui ustaz yang melarang perempuan bertanya. Dibiarkan saja perempuan bertanya tanpa melihat status pernikahannya. Mau gadis, sudah punya suami, janda, maupun dia istri ke berapa, sama sekali tidak dipermasalahkan. Yang penting, esensi pertanyaannya jelas, kalau bisa sesuai tema dan tidak bertele-tele karena pasti dibatasi durasi juga.

Bahkan Ustaz Abu Haidar As-Sundawy pernah mengatakan bahwa dia tidak menerima pertanyaan langsung dari akhwat pakai chat, yang sering kita pakai dengan warna hijau dan biru tersebut. Beliau akan menjawab jika lewat telepon langsung. Asal memang pertanyaannya seputar agama Islam. Beliau menjelaskan lagi, asal bukan telepon lalu bertanya, “Lagi ngapain, Ustaz?”

Selain dalam konteks mencari ilmu, suara akhwat juga diperlukan ketika membahas sesuatu. Sebagai contoh, saat musyawarah dalam banyak lembaga dakwah. Mereka sudah pakai jilbab besar, banyak yang bercadar, tetapi ketika di masjid, ditambahi lagi dengan hijab yang tebal dan tinggi. Masya Allah. Betapa terlindunginya kaum muslimah.

Namun, di balik itu, mereka boleh kok menyampaikan pendapat, saran maupun kritik, baik dengan atau tanpa menggunakan pengeras suara. Bagi kaum ikhwan atau laki-laki yang di sebelah hijab, juga memperhatikan isi dari pembicaraan tersebut. Selama usulan itu bagus dan menarik, mengapa tidak dieksekusi? Ya ‘kan?

Kalau diyakini bahwa suara perempuan itu bukan aurat, maka muslimah sendiri jangan merasa kurang PD berbicara di depan umum. Melalui suara, perlu juga, sebagai tambahan argumentasi. Walaupun kadang, jadi semakin panjang dan lebar dalam suatu musyawarah, apalagi jika menyangkut pernikahan. Terutama pernikahan yang, ehem, Anda tahu sendiri, lah, yang sering jadi polemik itu lho!

Terbatas Tetapi Luas

Lho, kok subjudulnya begitu? Maksudnya bagaimana ini? Begini, ini sangkut-pautnya dengan dakwah bagi seorang muslimah. Beda memang dengan laki-laki. Para ustaz dapat bebas tampil di depan jamaah. Terlihat wajah mereka di depan kamera. Kalaupun bukan berupa video, melalui rekaman suara juga mantap.

Para laki-laki bisa berdakwah ke seluruh penjuru, sendirian, tanpa harus disertai mahrom. Mereka bisa turun ke jalan-jalan, menyapa kaum muslimin, mengajak sholat berjamaah ke masjid, bisa tampil di mimbar ketika khutbah Jum’at, meskipun tidak semuanya mau, padahal aslinya mampu.

Baca Juga: Tempat Untuk Santuy dan Rebahan yang Paling Bagus

Kondisi yang tidak sama dialami oleh muslimah. Mereka tidak serta-merta bebas berdakwah layaknya laki-laki. Apalagi yang sudah konsisten dan komitmen untuk bercadar, jelas wajah mereka tidak bisa dibuka sembarangan untuk orang umum. Mau buat video, juga bisa jadi fitnah. Meskipun hanya terlihat mata, tetapi tetap mampu mendatangkan godaan bagi laki-laki asing.

Lewat rekaman suara? Kalau durasinya lama, tetap akan ada yang terfitnah. Apalagi membayangkan sosok perempuan tersebut melalui suaranya. Wah, ini kayaknya cantik! Suaranya lembut dan gimana gitu? Subhanallah.

Lalu, solusi apa yang lebih pas untuk menyuarakan suara mereka? Wah, kalimatnya kurang tepat! Solusi apa yang lebih pas untuk menggaungkan suara mereka? Nah, kalimat ini lebih tepat. Untuk ikut berdakwah melalui “suara” mereka, tanpa harus ikut polemik bahwa itu aurat atau tidak, caranya?

Gambar Maupun Tulisan

Menyuarakan dakwah bagi muslimah dapat dilakukan melalui gambar dan tulisan. Membuat postingan berisi dakwah, kalimat motivasi Islami, ayat Al-Qur’an, hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, perkataan para ulama maupun ustaz jaman now, mantap jika melalui gambar. Ukuran square yang biasanya untuk Instagram. Bentuk memanjang vertikal yang lebih sering untuk status WA, sedangkan horizontal untuk FB. Semuanya boleh, asal bukan makhluk bernyawa saja di gambar tersebut.

Persoalannya adalah, untuk membuat gambar yang cantik dan menarik butuh skill desain yang mumpuni. Hal tersebut memang tergantung dari jam terbang dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan maskapai penerbangan juga. Makin sering berlatih, makin tokcer hasilnya.

Tidak cuma itu, alat yang dipakai untuk mendesain apa? Banyak sekali yang bisa dipakai, contohnya: Corel Draw, Photoshop, Powerpoint, atau yang online macam Canva dotcom. Meskipun dengan software canggih dan mahal, tetapi kalau cita rasa desainnya kurang gahar, maka gambar jadi terlihat hambar.

Oleh karena itu, pilihan yang lebih tepat jatuh kepada tulisan. Oh, ya, gambar ini tidak selalu muncul lho! Terlebih di Facebook yang memilih mode buta atau gratis. Gambar tidak ditampilkan, apalagi video. Wa’allahu alam, apakah memang kurang bisa membeli paket data atau bagaimana, yang jelas gambar tidak bisa dibuka pada mode tersebut.

Tulisan tidak seperti itu. Bentuk ini lebih mudah dilakukan daripada membuat gambar konten dakwah. Dan, tentunya kita masih ingat bahwa membaca dan menulis adalah kemampuan dasar pada anak TK maupun SD. Lha, kalau sekarang kita kurang membaca dan tidak tertarik menulis, apa kata dunia? Apa masalahnya?

Kita bisa kok membuat tulisan yang baik dan menginspirasi. Sebab, pada dasarnya hati dan pikiran yang baik, maka ke luarnya juga baik. Benar ‘kan? Ibaratnya kopi di pagi hari, bagi Anda yang suka ngopi, tidak pakai paste.

Baca Juga: Seperti Membuat Meja

Teko yang diisi kopi nikmat dan gula pasir secukupnya, maka yang ke luar dari mulutnya adalah kopi juga. Apalagi yang menghidangkannya adalah istri tercinta, di saat wajahnya tersenyum sangat manis, muka bersih, rambut tersisir rapi dan harum, suami mana sih yang tidak makin tergoda dan sayang? Kopinya nikmat, yang menyajikan pun tidak kalah nikmat. Maaf, untuk yang jomblo, jangan iri, bersabar dulu ya!

Mulai dari membuat status di media sosial tentang Islam. Misalnya, sudah sholatkah Anda hari ini? Oh, yang membaca jadi bertanya-tanya, eh, sudah sholat belum ya? Atau, sudah berapa lama tidak sholat sampai sekarang? Wah, jadi ingat, kalau anak kecil umur sepuluh tahun saja tidak sholat dipukul bapaknya, sekarang umur 40 tahun kok tidak sholat, bagusnya diapakan?!

Ketika mulai lancar menulis pendek, dilanjutkan dengan agak panjang dan cukup panjang, sampai jadi sebuah artikel. Bentuk lain, kisah pendek yang nyata maupun puisi. Bukankah kita kenal dahulu anak perempuan biasanya memiliki diary bergembok tempat menulis curhat-curhatnya? Sekarang, tulisan yang ada juga sama, dilandasi dengan kegelisahan atau hal-hal yang mengganjal di dalam hati muslimah, tetapi tetap dibalut dengan dakwah.

Tentang keluarga, ibu-ibu yang harus bersabar menghadapi anak-anaknya, apalagi di tengah pandemi ini yang entah sampai kapan? Mungkin tentang pemberdayaan kaum muslimah untuk berbisnis online atau yang lainnya. Disajikan dalam bentuk tulisan, maka akan lebih terwadahi.

Memang, sepertinya perbandingan antara penulis laki-laki dan perempuan masih belum seimbang. Tulisan-tulisan sebagian muslimah malah seputar perkara rumah tangganya sendiri yang diumbar di media sosial. Kalau sudah begitu, perlu dikonter, bukan konter HP, melainkan disajikan tulisan untuk “melawannya”. Menampilkan sudut pandang yang berbeda, mengambil dalil-dalil yang ada, hingga mereka mengerti tentang tidak bolehnya mengumbar aib pasangan sendiri di ranah medsos.

Sesama muslimah akan lebih mengena, Insya Allah, daripada laki-laki kepada mereka yang motifnya pasti lain. Dapat dianggap modus. Tebar pesona. Dan lain sebagainya.

Melatih Istiqomah

Rajin berdakwah lewat tulisan sebenarnya menohok diri sendiri, apakah saya sudah seperti itu? Ya, mungkin belum sempurna 100 %, tetapi bukankah hidup ini adalah sebuah proses? Untuk menjadi orang baik memang tidak mudah. Apalagi di tengah zaman penuh fitnah seperti sekarang ini.

Suara dakwah muslimah masih ditunggu kiprahnya lebih mantap lagi. Meskipun, masih ada suara lain yang juga tidak boleh serta-merta diacuhkan. Apalagi kalau bukan suara hati akhwat untuk mendapatkan jodoh ikhwan sholeh?

Mengenai hal itu, menjadi kewajiban walinya untuk mencarikan, atau gurunya. Meskipun ketika dihadapkan kepada laki-laki sholeh tersebut, persoalan biasanya tidak jauh-jauh dari yang namanya finansial dan syarat untuk menikah harus dengan modal yang tidak sedikit.

Tantangan sebagai seorang muslimah memang tidak mudah juga, apalagi yang berusaha untuk konsisten dengan busana syar’i sampai bercadar pula. Anggapan miring tentang model pakaian seperti itu masih banyak di masyarakat. Dan, untuk lebih lengkapnya tentang itu, Insya Allah saya sajikan di tulisan selanjutnya di part 3 ya!

Wa’allahu alam bisshawab

Bersambung…

Baca Juga: Cadar dan Keinginan Untuk Istiqomah Secara Sadar (3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here